WARNING : Penulisan menggunakan bahasa yang campur aduk, tidak konsisten dan tata bahasa yang berantakan.
“Jika itu demi Miyachan, aku akan melakukan apa pun—termasuk memastikan setiap pertandingan menjadi milik kami.” — Narumiya Mirai
Narumiya Mirai adalah alumni Inashiro High School dan mantan manajer klub baseball sekolah tersebut. Sebagai manajer tim ia memiliki peran dalam mendukung tim, terutama dalam aspek strategi dan analisis. Tugas utamanya adalah mengamati, mencatat, dan menganalisis kemampuan tim lawan untuk memberikan informasi berharga bagi timnya. Dengan ketelitian dan kecerdasannya, Mirai berkontribusi dalam perencanaan strategi permainan. Ia adalah kakak perempuan kedua dari Narumiya Mei.
Apperance
Mirai can be considered the female version of Mei due to their similarities, though they are not twins. The only difference lies in their hairstyles. She has spiky blonde hair on the top, while the bottom part is straight and extends slightly past her shoulders. She also has blue eyes. Additionally, she wears a black bandana. Many other characters find her appearance attractive.
Character
Narumiya Mirai adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, Narumiya Mei, hingga bisa dibilang sebagai seorang brocon akut. Baginya, Mei adalah prioritas utama, dan ia selalu memastikan adiknya mendapatkan yang terbaik. Mulai dari mendukungnya dalam baseball hingga memastikan lingkungan sekitarnya tidak merugikannya, Mirai akan turun tangan jika dirasa perlu. Namun, di balik sifat protektifnya itu, Mirai justru merupakan sosok yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Ia adalah pribadi yang cerdas dan penuh perhitungan, selalu berpikir strategis dalam setiap tindakannya.
Sebagai manajer klub baseball Inashiro, ia memiliki kemampuan analisis yang tajam dan selalu menyusun rencana dengan matang. Perfeksionis dalam pekerjaannya, Mirai tidak suka melakukan sesuatu setengah-setengah dan selalu berusaha untuk memberikan hasil terbaik.
Ramah dan mudah bergaul, Mirai dapat berbicara dengan siapa saja tanpa canggung, tetapi ia juga memiliki sisi jahil dan suka menggoda orang lain dengan kata-kata ambigu. Meskipun terlihat ceria dan percaya diri, ia sering menyembunyikan perasaannya sendiri, terutama setelah berpisah sekolah dengan Mei, yang membuatnya merasa sedikit kesepian.
History
- Saat masih di Junior High, Mei mengumpulkan para pemain berbakat yang ia anggap layak untuk membentuk tim terbaik yang akan membawa mereka ke Koshien. Mirai dengan kemampuan analisisnya membantu Mei dalam mengidentifikasi pemain-pemain berbakat tersebut. Bersama-sama, mereka meyakinkan Shirakawa, Carlos, Yamaoka, dan Yabe untuk bergabung dan bersekolah di Inashiro Industrial, meskipun Miyuki menolak tawaran mereka.
Mirai tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya ketika Miyuki menolak tawaran tersebut. Mirai telah berpikir bahwa Miyuki adalah salah satu pemain yang ia akui sebagai bakal kunci kesuksesan tim, seseorang yang bisa melengkapi gaya pitching Mei dengan sempurna.
- Sebagai freshman, Mei tampil sebagai reliever dalam semifinal melawan Seidou dan sukses menutup pertandingan. Di balik layar, Mirai memainkan peran penting sebagai salah satu otak strategi, menganalisis pola pukulan lawan dan menyusun laporan taktis untuk pelatih dan Mei. Kejelian analisanya menjadi salah satu kunci kemenangan tim.
Selama Summer Koshien, Mirai terus bekerja sebagai manajer tim, membantu menganalisis setiap lawan. Namun di babak ketiga melawan Yatsuhiro, saat skor imbang 2-2 dan tekanan memuncak, prediksi squeeze play-nya benar, tapi wild pitch dari Mei justru membalikkan keadaan. Meski hasilnya pahit, Mirai tidak menyalahkan adiknya. Ia hanya menarik napas panjang dan menyadari bahwa bahkan strategi terbaik pun tidak selalu bisa menjamin kemenangan.
- Dalam Fate, Saat Mei dan Harada mendatangi Sawamura untuk menanyakan tentang Furuya, Mirai mengamati dari kejauhan dengan tatapan tajam. Ia tahu, rasa ingin tahu Mei sering kali tak terkontrol, tapi justru dari momen seperti inilah Mirai mengumpulkan informasi — ekspresi Sawamura, sikap Miyuki, dan setiap detail yang bisa berguna nanti.
Dalam scrimmage melawan Shuuhoku, saat Mei bersikeras melempar changeup meski dilarang, Mirai sudah menduga ia akan bertindak semaunya. Dan benar saja, usai lemparan itu, Pelatih Kunitomo langsung menariknya keluar. Mirai hanya mendesah kecil — mencatat hasilnya tanpa banyak komentar.
Saat menonton pertandingan Seidou vs Shuuhoku, Mirai memperhatikan perkembangan Tanba, namun kecewa ketika pertandingan berakhir mendadak karena cedera. Yang paling membuatnya kesal adalah ia belum sempat menganalisis Furuya secara langsung.
- Setelah upacara pembukaan Kejuaraan Bisbol SMA ke-89, Inashiro berpapasan dengan Seidou di luar stadion. Saat Mei terkejut melihat kepala plontos Tanba dan bersembunyi di balik Harada, Mirai diam-diam menahan rasa gemasnya terhadap reaksi Mei yang ia anggap sangat imut. Namun ketika melihat Furuya yang lemas dan dibantu berjalan oleh Sawamura, tatapan Mirai langsung tajam. Ia cepat mencatat kondisi fisik lawan, memperhatikan detil kecil seperti postur dan ekspresi.
- Setelah pertandingan babak penyisihan, tim Inashiro berjalan keluar lapangan. Mei tampak kesal karena Pelatih Kunitomo tidak mengizinkannya bermain penuh sebagai pitcher, dan mulai mengeluh. Pelatih Kunitomo tak menggubris, sementara Harada menjelaskan bahwa itu demi menjaga stamina Mei untuk pertandingan selanjutnya.
Di samping mereka, Mirai berjalan tenang sambil membawa tablet dan buku catatannya, tapi sesekali melirik adiknya dengan khawatir. Ia mencoba menenangkan adiknya itu sambil menjelaskan bahwa ini demi kebaikan Mei sendiri agar tidak terlalu kelelahan. Ucapannya cukup untuk meredam kekesalan Mei, meski hanya sejenak.
Ketika kabar kekalahan Ichidaisan datang, ekspresi Mirai langsung berubah serius. Ia segera memperbarui catatan strateginya—satu perubahan kecil di bracket bisa mengubah seluruh rencana mereka, dan Mirai tak akan membiarkan Mei melangkah tanpa persiapan.
- Selama pertandingan semifinal Seidou melawan Sensen Academy, Mirai duduk beberapa baris di belakang Mei, Harada, Hirai, dan Yoshizawa, mencatat jalannya pertandingan sambil sesekali melirik adiknya yang mulai berkomentar pedas soal pitching Tanba. Saat Harada memperingatkan agar tidak meremehkan lawan, Mirai hanya menarik napas pelan—ia tahu betul sisi keras kepala Mei, tapi juga tahu kapan harus membiarkannya sendiri.
Ketika Mei pergi dengan alasan membeli minuman, Mirai tetap memperhatikan pertandingan, mencatat detail kecil yang bisa berguna. Ia tahu adiknya hanya mencari ruang untuk menenangkan diri tanpa terlihat lemah di depan orang lain.
Sebelum pertandingan melawan Sakurazawa dimulai, Mei berlatih pitching dengan Harada. Mirai berdiri di sisi bullpen, mencermati setiap lemparan adiknya, memastikan tak ada kejanggalan dalam gerakannya. Saat melihat pemain Seidou dan Sakurazawa menonton, ia bisa membaca kebanggaan samar di mata Mei—dan ia hanya tersenyum tipis, memahami keinginan adiknya untuk mendominasi panggung.
Saat pertandingan berlangsung, Mirai fokus mencatat kelemahan Sakurazawa, bahkan ketika lawan mulai membuat kesalahan yang membuka jalan kemenangan untuk Inashiro. Setelah pertandingan usai dan Mei menyemangati Sakurazawa, Mirai menatapnya dengan ekspresi lembut—bangga karena Mei mampu menunjukkan empati di tengah dominasi.
Ketika sorakan Sawamura terdengar dari tribun, menyatakan Seidou akan menang di final, Mei hanya tersenyum. Dari belakang, Mirai memperhatikan reaksi itu dengan tenang—karena ia tahu, tidak ada yang lebih memotivasi Mei selain tantangan dan tatapan adiknya sendiri yang mempercayainya sepenuh hati.
- Di hari final, Mirai menyadari kantuk di mata Mei sejak pagi, tapi juga tahu adiknya terlalu bersemangat memikirkan cara mengalahkan Seidou semalaman. Dari bangku manajer, ia mengamati gerak-gerik Mei dengan tenang, mencatat setiap momen penting di buku catatannya.
Saat Seidou mencetak skor lebih dulu, Mirai menggenggam kuat pena di tangannya, tahu betul betapa harga diri Mei terpukul. Namun ia juga tahu, saat Mei serius, kekuatannya menjadi tak terbendung—terbukti ketika ia memukul RBI setelah Harada. Di inning kedelapan, saat Mei kehilangan fokus dan melempar pitch tinggi yang akhirnya dipukul Yuuki, Mirai hanya menunduk sebentar, menenangkan dirinya sebelum berdiri dan menatap adiknya di mound—bukan dengan kecewa, tapi dengan dukungan penuh. Ia tahu betul, tekanan terbesar Mei adalah ekspektasinya sendiri.
Setelah inning tersebut, saat Mei menghilang sebentar ke belakang dugout, Mirai yang pertama menyusul, menyerahkan botol air sambil menenangkan adiknya itu. Dan di inning kesembilan, dengan tensi memuncak, Mirai menahan napas saat Harada menyamakan skor dan Mei bersiap di on-deck circle. Ketika pukulan Mei mengakhiri pertandingan dan membawa Inashiro menang, Mirai berdiri dari tempat duduknya, menatap adiknya yang jatuh berlutut di tengah lapangan—air mata mengalir, bukan karena sedih, tapi karena bangga.
- Selama perjalanan Inashiro di Summer Koshien, Mirai menyaksikan sang adik—Mei, yang dijuluki “Pangeran Ibu Kota”—bersinar terang di panggung nasional. Ia mencatat perubahan teknik pitching Mei, terutama ketika menghadapi pemukul monster Seihou, Shuzo Sano. Saat Mei menutup laga dengan fastball, bukan change-up, Mirai tahu itu bukan sekadar strategi—itu hasil dari pelajaran emosional di final turnamen Tokyo Barat.
Malam sebelum final, dari ruang pelatih dan staf, Mirai mendengar riuh suara Mei menyapa fans dari jendela hostel. Ia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, tahu betul adiknya sedang menutupi kegugupan dengan sikap santai. Namun, ketika diam-diam Mei mengucapkan terima kasih pada rekan-rekannya sebelum tidur, Mirai mendengar dari balik pintu yang setengah terbuka. Ia tahu, itu sisi tulus Mei yang jarang ditunjukkan—dan ia merasa haru.
Saat final berlangsung, suhu lapangan membuat Mirai mencemaskan daya tahan Mei, tapi tetap mempercayai kekuatan adiknya. Sayangnya, meski bertarung hingga inning ke-14, Inashiro kalah dari Komadai Fujimaki.
Usai pertandingan, saat Harada menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Mei di depan kamera, Mirai menahan air mata di belakang layar—bangga bukan hanya pada hasil, tapi karena Mei tetap berdiri sebagai ace sampai akhir. Baginya, kemenangan sejati adalah bagaimana adiknya tumbuh dan belajar untuk menghargai tim, bukan hanya menang.
Relationship with other Characters
Trivia
- Mei memiliki dua orang kakak perempuan, dan Mirai adalah kakak yang paling dekat dengannya.
- Perbedaan usia antara Mei dan Mirai hanya satu tahun.
- Sejak taman kanak-kanak hingga SMA, mereka selalu bersekolah di tempat yang sama.
- Banyak orang yang dekat dengan mereka menganggap mereka seperti versi genderbender dari satu sama lain karena wajah mereka yang mirip. Meskipun begitu, mereka bukan anak kembar.
- Awalnya, Mirai tidak ingin memiliki adik karena takut perhatian orang tuanya berkurang dengan kehadiran anak baru.
- Orang tua mereka sangat sibuk bekerja, sementara kakak tertua mereka (yang lima tahun lebih tua dari Mirai) juga sibuk dengan sekolahnya, membuat Mirai sering merasa kesepian.
- Karena itu, orang tua mereka memutuskan untuk memiliki anak lagi agar Mirai punya teman bermain. Namun, sebagai anak kecil yang haus perhatian, Mirai tidak melihatnya sebagai hal yang menyenangkan.
- Saat Mei baru lahir, Mirai bahkan tidak mau melihatnya dan selalu menjauh.
- Suatu hari, saat di rumah hanya ada Mirai, Mei, dan ibu mereka yang sedang di dapur, tangisan kencang Mei dari kamar sebelah membuat Mirai merasa terganggu hingga akhirnya ia masuk untuk menenangkan adiknya. Namun, begitu melihat kakaknya, Mei langsung berhenti menangis dan menatapnya dengan mata bulat penuh harap. Mirai berniat memanggil ibu mereka, tetapi setiap kali ia hendak keluar, Mei kembali menangis seolah tidak ingin ditinggalkan. Merasa tidak tega, Mirai akhirnya mendekati Mei untuk pertama kalinya dan melihat adiknya dari jarak dekat. Saat ia menyentuh pipi Mei yang lembut bak bakpao, pikirannya langsung dipenuhi kekaguman, dan ketika jari telunjuknya digenggam oleh tangan mungil Mei, hatinya langsung luluh. Sejak saat itu, Mirai resmi menjadi brocon akut.
- Hampir semua orang yang mengenal mereka tahu bahwa Mirai adalah brocon akut terhadap Mei.
- Mirai memanggil Mei dengan sebutan "Miyachan", yang berasal dari nama keluarga mereka, "Narumiya." Menurut Mirai, panggilan "Meichan" terlalu biasa, jadi ia ingin punya panggilan khusus yang berbeda dari orang lain.
- Mei sama sekali tidak risih dengan sikap brocon kakaknya. Sebagai seseorang yang suka diperhatikan, dimanjakan, dan disayang, ia justru senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mirai. Meskipun begitu, Mei tetap tengil dan sering menggoda Mirai.
- Hanya kepada Mirai, Mei berusaha untuk tidak bersikap egois. Namun, karena sifat alaminya, terkadang ia tetap bertindak egois tanpa sadar. Meski begitu, Mirai tidak pernah mempermasalahkannya karena ia menyayangi Mei apa adanya.
- Walaupun Mirai adalah brocon akut, ia sama sekali tidak pernah memiliki perasaan romantis terhadap adiknya.
- Mirai adalah salah satu siswa paling berprestasi di sekolahnya, sering memenangkan perlombaan akademis dan meraih nilai tinggi di hampir semua mata pelajaran.
- Berkat kepintarannya, hasil investigasi dan catatan mengenai tim lawan selalu terbukti berguna bagi klub baseball Inashiro dalam persiapan pertandingan.
- Kedekatannya dengan Mei sering menimbulkan kesalahpahaman di kalangan fangirl Mei yang tidak tahu bahwa mereka bersaudara. Akibatnya, Mirai beberapa kali dilabrak oleh mereka karena rasa cemburu.
- Beberapa anggota klub pernah menyukai Mirai dan bahkan menyatakan perasaan padanya, tetapi ia selalu menolak dengan berbagai alasan.
- Setelah lulus dari Inashiro, Mirai merasa agak lesu karena jarang bertemu Mei. Namun, ia tetap menyempatkan diri untuk datang dan melihat adiknya berlatih.
- Setelah lulus, Mirai melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas di Tokyo sambil bekerja paruh waktu.
- Ia dikenal sebagai sosok yang friendly dan mudah bergaul, tetapi juga memiliki sisi jahil dan suka menggoda orang lain dengan kata-katanya yang terkadang tajam.
- Di balik sikapnya yang ceria dan santai, Mirai sebenarnya cukup manipulatif dan mampu membaca situasi dengan baik.
- Mirai bersedia melakukan apa saja untuk kebahagian Mei.
Name Etmyology
- Narumiya (成宮) - Forming/Growing Palace
- Mirai (未来) - Future, reflecting hope, potential, and something bright
Quotes
- "Jika itu demi Miyachan, aku akan melakukan apa saja. Tidak ada negosiasi.”
- "Orang-orang bilang aku terlalu protektif. Ya? Memangnya kenapa? Itu adikku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.”
- "Miyachan mungkin terlihat menyebalkan bagi orang lain, tapi bagiku? Dia adalah adik kecilku yang paling imut.”
- "Pertandingan ini sudah kuprediksi hasilnya sejak awal. Mau bertaruh?”
- "Setiap kemenangan butuh strategi yang matang. Jika kau hanya mengandalkan keberuntungan, jangan harap bisa bertahan lama.”
Gallery



